Akhir-akhir ini kena serangan penyakit mood banget. pengen
ngapa-ngapain serasa ada yang narik kaki untuk diam di tempat. Pengin melakukan
hal hal kecil yang produktif aja langsung dapet serbuan pikiran yang akhirnya
bikin gue balik ke tempat.
15 Agu 2014
28 Feb 2014
Selamat Ulang Tahun
Kadang kekecewaan membeludak karena Dirinya sebenarnya tau cara melangkah, tapi memilih menghujamkan kakinya di tanah. Entah gravitasi ego yang kuat, atau dia yang memang tidak berniat mencoba mengangkat. Hitung berapa hari yang telah ia lewati mendobrak garis yang seharusnya menjadi finish mimpinya. dia melewatinya tanpa membuat mimpi itu nyata. Hitung berapa banyak luka yang ada di kulitnya, padahal ia tahu ada kuasa dalam setiap senti gerakan tangannya. Ia tahu beberapa hal, tapi tidak menjalankan apa yang seharusnya.
23 Feb 2014
Gagak, Pipit, dan Seloyang Pizza. : Tentang Perbedaan
Menghujat orang lain yang berbeda, seolah mereka bagian di luar kamu yang tak perlu dipertahankan, adalah seperti papperoni yang menghujat paprika "si hijau itu berbeda dan bukan bagian dari kita!.", Katanya. Padahal mereka berdiri di satu adonan yang sama, dibakar di atas satu loyang yang tak memilih paprika atau papperoni yang lebih baik cepat dimatangkan.
Anzaka
Kubuka perlahan catatan dari lembaran diari yang baru saja diberikan oleh adiknya padaku. diari milik seorang sahabat yang sejak lama sering membuat waktu yang kami habiskan bersama tidak terasa seperti angka. Ia gemar tertawa dan memberi tahu apa yang ia pikirkan. Bijak dan memuaskan, walau sering juga biasa saja. Sering tertawa lepas dengan kata kata santai meluncur bebas, tapi terkadang terbata-bata dalam kekalutan jiwa.
5 Jun 2013
Cengiran Batangan Putih
bagi gue, angkot adalah lebih dari sekedar kendaraan umum dengan berbagai sticker iklan dan quote ngasal (kadang jorok) menempel pada dasbor dan pintu. dia tempat dimana berbagai hal-hal menarik yang nggak di sangka-sangka bisa gue saksikan. gak jarang hal itu konyol.
di suatu sore yang hangat, gue dan vaza, seorang sohib sekaligus rekan pulang angkot (sekarang udah nggak) naik ke salah satu angkot arah parung-ciputat yang melintas. semuanya kayak biasa, di dalem situ kita ngomongin banyak hal, ketawa kayak keserang asma, dan bergeser ketika ada orang masuk. suatu ketika seseorang pun masuk.
dari perawakan dan seragamnya, ia terlihat seperti pemuda STM yang lagi magang. gak ada alesan buat kami untuk memperhatikan dia, karena emang biasa aja. sampai deru angkot melambat, dan seorang ibu berbadan buntel masuk dan duduk di kursi seberang pemuda STM itu. mereka saling tersentak dengan perasaan tidak asing dengan wajah di hadapannya masing-masing.
"eeeeeeeeeh kamuuuu!"
"eeeeeeeeeh ibuuuuuu!"
ternyata mereka saling kenal.
heningnya anngkot serta suara kedua manusia ini yang mendominasi telinga kami cukup memberi alasan bagi gue dan vaza untuk secara tidak sadar menyimak percakapan antara dua manusia ini.
"apa kabarrr kamuu?" kata sang ibu.
"ya baikkk buuu, ibu begimanah?"
percakapan diawali dengan basa basi tat-tet-tot. dari basa basi, kami bisa berkesimpulan bahwa ini adalah hubungan antara seorang murid dan guru lama.
"sekarang lagi sibuk apa?
"lagi sibuk nyopir aja si bu sambil bantu-bantu."
"nyopirin siapaa?"
"Pak Rohim bu, (blababababbablap) kadang juga disuruh beli ini itu, lumayan dah" disetiap akhir jawaban, pemuda STM itu selalu melemparkan cengiran unyu gak berdosa.
"oo, beli apa?"
"yaaa macem macem bu. kadang mah beli nasigoreng, kadang rokok"
"rokok?"
"iya bu"
"terus kamu dikasih rokok?"
"dikasih bu, tapi mah saya bilang aja 'makasih pak, saya nggak ngerokok' lagi kan gabaek bu. bingung saya mah ama orang yang ngerokok, ga sehat kan bu"
"ooh, gabaek ya" ibu itu nyengir. "terus itu apa?" sang ibu guru menunjuk ke arah sakunya.
sang pemuda mengikuti padangan yang ditunjuk, dan melihat sebatang djisamsoe dengan imutnya menyembul dari saku "... ohhh----" "---ini mah punya temen saya bu..."
sementara dia sibuk dengan cengirannya yang kini penuh dosa, gue dan vaza sibuk melambungkan wajah sejauh mungkin menahan semburan tawa..
di suatu sore yang hangat, gue dan vaza, seorang sohib sekaligus rekan pulang angkot (sekarang udah nggak) naik ke salah satu angkot arah parung-ciputat yang melintas. semuanya kayak biasa, di dalem situ kita ngomongin banyak hal, ketawa kayak keserang asma, dan bergeser ketika ada orang masuk. suatu ketika seseorang pun masuk.
dari perawakan dan seragamnya, ia terlihat seperti pemuda STM yang lagi magang. gak ada alesan buat kami untuk memperhatikan dia, karena emang biasa aja. sampai deru angkot melambat, dan seorang ibu berbadan buntel masuk dan duduk di kursi seberang pemuda STM itu. mereka saling tersentak dengan perasaan tidak asing dengan wajah di hadapannya masing-masing.
"eeeeeeeeeh kamuuuu!"
"eeeeeeeeeh ibuuuuuu!"
ternyata mereka saling kenal.
heningnya anngkot serta suara kedua manusia ini yang mendominasi telinga kami cukup memberi alasan bagi gue dan vaza untuk secara tidak sadar menyimak percakapan antara dua manusia ini.
"apa kabarrr kamuu?" kata sang ibu.
"ya baikkk buuu, ibu begimanah?"
percakapan diawali dengan basa basi tat-tet-tot. dari basa basi, kami bisa berkesimpulan bahwa ini adalah hubungan antara seorang murid dan guru lama.
"sekarang lagi sibuk apa?
"lagi sibuk nyopir aja si bu sambil bantu-bantu."
"nyopirin siapaa?"
"Pak Rohim bu, (blababababbablap) kadang juga disuruh beli ini itu, lumayan dah" disetiap akhir jawaban, pemuda STM itu selalu melemparkan cengiran unyu gak berdosa.
"oo, beli apa?"
"yaaa macem macem bu. kadang mah beli nasigoreng, kadang rokok"
"rokok?"
"iya bu"
"terus kamu dikasih rokok?"
"dikasih bu, tapi mah saya bilang aja 'makasih pak, saya nggak ngerokok' lagi kan gabaek bu. bingung saya mah ama orang yang ngerokok, ga sehat kan bu"
"ooh, gabaek ya" ibu itu nyengir. "terus itu apa?" sang ibu guru menunjuk ke arah sakunya.
sang pemuda mengikuti padangan yang ditunjuk, dan melihat sebatang djisamsoe dengan imutnya menyembul dari saku "... ohhh----" "---ini mah punya temen saya bu..."
sementara dia sibuk dengan cengirannya yang kini penuh dosa, gue dan vaza sibuk melambungkan wajah sejauh mungkin menahan semburan tawa..
13 Okt 2012
Gue Korban.
Gue anjurkan lo baca ini sampe habis, pokoknya baca aja. Karena gue rasa lo harus tau pengalaman gue yang ini. jadi lo gak perlu ngalamin juga untuk mengambil hikmahnya.
Pukul 5 sore, Gue duduk di depan TV sambil makan es buah ditemani dengan suara bocah bocah dari luar rumah yang lagi asik maen sepeda. Tante sama uak gue duduk disebelah gue, lagi seru ngobrol-ngobrol dengan bahasa jawa sambil ketawa2. Tiba-tiba, ada seseorang yang mengendarai motor matic hijau berhenti di depan gerbang rumah gue. Dia ngeliat ke arah gue melalui pintu ruang tamu yang terbuka lebar, semacam meminta sambutan. Yang namanya tamu, ya gue samperlah orang itu.
Dia nanya dimana ortu gue. Gue bilang apa adanya bahwa mereka lagi gak ada di rumah.
Selanjutnya dia bilang dia itu orang yang udah dipesen bokap gue untuk ngurusin cd driver buat laptop bokap gue. (Entah cd driver atau apalah, gangerti). dari keramahannya, kata-katanya, gue mengambil kesimpulan bahwa orang ini memang udah akrab lama sama bokap gue. Dari gayanya juga keliatannya ini emang orang yang berprofesi di bidang hardware2an gitu.
Oke, jadi ini temen bokap gue dan mereka udah akrab, pikir gue. Akhirnya gue ladenin aja tuh apa-apa yang dia bilang, basa basi nya dia, obrolan jadi panjang. Oya, dia bilang namanya Mas Wahyu.
"Sebenernya ayah kamu juga minta supaya CD driver Ini dikirimnya sebelum dia berangkat haji. Tapi saya baru bisa sekarang" kata dia, gerak geriknya keliatan terburu-buru akan sesuatu.
"Oh.."
"Eh kamu kelas berapa sih? Satu ya?"
"Iya..."
"Satu SMA?"
"Iya..."
"Waduh udah gede ya, dulu pas saya kesini kamu masih kecil loh, masih satu smp kalo gak salah"
"Ooh...?" Gue kaget karena gue gak pernah ngeliat muka dia bertamu di rumah gue sama sekali. ah.. mungkin gue nya aja yang lupa atau gak sadar.
"Merek laptop ayah kamu apa?"
gue mencoba nginget-nginget. Tapi gue lupa, bener-bener lupa. ".. Lupa"
Selanjutnya dia nanya2in merek laptop gue dan laptop ortu satu persatu. Dan anehnya, gue lupa semua merk laptop, bahkan punya gue sendiri. Kecuali punya nyokap. "Laptop mama toshiba"
"Oooh iya bener berarti. Ini saya bawa yang untuk toshiba, ayah kamu kan emang pesen yang toshiba juga."
"Oh..."
"Saya boleh liat laptop kamu gak?"
"Oh......?" Gue agak menimbang sebentar. Gue masuk ke kamar berniat ngambil laptop. Yang dia maksud 'liat laptop kamu' kan artinya gue harus bawa laptop itu ke teras, ke dia kan? Dan gue ragu untuk itu. Berkat akal sehat gue yang masih bekerja dominan, akhirnya gue balik ke mas mas nya dengan tangan kosong dan bilang "Merk laptop saya Acer mas"
"Ooh, nggak nggak, maksud saya laptopnya dibawa kesini aja."
"Oooh....?" Akhirnya gue bawa laptop gue dan menaruhnya di meja teras. Dia nyatet angka2 yang tercantum pada stiker yang nempel di bagian bawah laptop gue.
"Skalian deh punya ibu bapak kamu."
Gue masuk kamar, dengan was was ngeliat orang itu, ngeri laptop gue yang gue tinggal di atas meja teras dibawa kabur.
Tapi akhirnya gue bawa keluar juga dua laptop ortu gue. Anehnya, setiap kali gua bawa laptop dari kamar ke teras, gue selalu berusaha menyembunyikan laptop yang gue genggam itu dari penglihatan sodara2 gue. Seolah-olah gue merasa sodara2 gue gak perlu tau urusan gue sama mas mas itu. gue tumpuk kedua laptop itu diatas laptop gue tadi. 3 lembar laptop di atas meja teras.
"Okey, Ini boleh saya bawa dulu?"
Gue pikir yang dia maksud itu kertas yang dia pegang. "Ooh, boleh lah"
Tanpa disangka2, yang dia pegang malah tumpukkan laptop itu. "Eh? Mau dibawa kemana mas?
"eh? ini mau saya anter ini ke mas bayu blablabla.." Ngomongnya sih keliatan pinter dan berpengalaman.
Gue diem. Akal sehat gue cenderung masih menguasai gue. Gue cuman bisa diem natap muka orang itu. Dia ketawa agak tersinggung. "Kalo saya orang jahat, daritadi pas kamu masuk rumah juga ini laptop udah saya bawa kabur."
Gue ketawa agak ngerasa gak enak sama orang itu. "Yaudah.."
"Kamu gausah khawatir, saya cuman mau nganterin ini sebentar kok ke mas bayu. Nanti saya balik lagi. Paling lima belas menitan. Kamu buka aja pager nya, saya gak bakal lama."
Gue diem. dia menyalakan gas motor nya, dan langsung membawanya pergi dengan cepat.
Gue duduk di teras dan bengong ngeliat dia lenyap. Gue bengong....
Badan gue langsung kaku. Baru gue sadar apa yang udah gue lakukan. Baru gue sadar 3 laptop dibawa pergi orang yang gue sendiri belom pernah liat sama sekali, dan bisa2nya gue gak minta contact nya. Barulah jelas apa motif sebenernya dari semua perkataan, tindakan dia. Barulah semuanya masuk akal.
Lima belas menit berlalu, dan dia gak pernah dateng, jelas.
Gue juga gatau lah, apa gue nya aja yang kelewat bego dan polos, atau gue ada di bawah pengaruh hipnotis dia, seperti kata orang-orang sini. Tapi yang jelas, semua kata2 dia itu bikin gue yakin kalo dia itu emang orang yang udah akrab sama bokap gue. Bokap gue kan memang orangnya supel dan fleksibel dalam bergaul, jadi ama tukang cuci mobil juga soal akrab mah gampang. Jadi memungkinkan aja kalo si -penjahatkampretyangngakungaku- emang udah deket ama bokap.
Pokoknya kalo misalnya ada orang yang ngajak ngobrol lo, yang mana dari kata2nya seolah-olah menyiratkan dia udah kenal deket sama keluarga lo, jangan langsung percaya gitu aja dan nurutin apa yang dia mau. Mau tampang orang itu kayak mas mas kalem juga jangan lah. Kalau mau cari aman, mending dari awal kalo orang itu emang gak pernah lo liat sama sekali, gausah diladenin. Gausah lo perpanjang obrolan. Kalopun dia yang berusaha memperpanjang, segera tutup diri lo.
Pokoknya keamanan diri lo tuh harus diutamain lah. Mau orang itu tersinggung pun karena lo curigain, tetep lakukan aja apa yang menurut akal sehat lo itu bener. Masalahnya, yang jadi taruhan kan apa yang lo punya. Atau diri lo sendiri.
semoga ini gak terjadi sama lo yee, cukup lo belajar soal ini dari pengalaman gue aja. Semoga aja dengan musibah musibah kayak gini gue bisa lebih deket sama Allah.
oiyee buat yang nyolong laptop gue, gue gakpeduli lo baca ini apa ngga. tapi lo nggak kesian apeh ngeliat anak lo makan duit haram? semoga perbuatan lo dibales Allah yee, Amin.
Pukul 5 sore, Gue duduk di depan TV sambil makan es buah ditemani dengan suara bocah bocah dari luar rumah yang lagi asik maen sepeda. Tante sama uak gue duduk disebelah gue, lagi seru ngobrol-ngobrol dengan bahasa jawa sambil ketawa2. Tiba-tiba, ada seseorang yang mengendarai motor matic hijau berhenti di depan gerbang rumah gue. Dia ngeliat ke arah gue melalui pintu ruang tamu yang terbuka lebar, semacam meminta sambutan. Yang namanya tamu, ya gue samperlah orang itu.
Dia nanya dimana ortu gue. Gue bilang apa adanya bahwa mereka lagi gak ada di rumah.
Selanjutnya dia bilang dia itu orang yang udah dipesen bokap gue untuk ngurusin cd driver buat laptop bokap gue. (Entah cd driver atau apalah, gangerti). dari keramahannya, kata-katanya, gue mengambil kesimpulan bahwa orang ini memang udah akrab lama sama bokap gue. Dari gayanya juga keliatannya ini emang orang yang berprofesi di bidang hardware2an gitu.
Oke, jadi ini temen bokap gue dan mereka udah akrab, pikir gue. Akhirnya gue ladenin aja tuh apa-apa yang dia bilang, basa basi nya dia, obrolan jadi panjang. Oya, dia bilang namanya Mas Wahyu.
"Sebenernya ayah kamu juga minta supaya CD driver Ini dikirimnya sebelum dia berangkat haji. Tapi saya baru bisa sekarang" kata dia, gerak geriknya keliatan terburu-buru akan sesuatu.
"Oh.."
"Eh kamu kelas berapa sih? Satu ya?"
"Iya..."
"Satu SMA?"
"Iya..."
"Waduh udah gede ya, dulu pas saya kesini kamu masih kecil loh, masih satu smp kalo gak salah"
"Ooh...?" Gue kaget karena gue gak pernah ngeliat muka dia bertamu di rumah gue sama sekali. ah.. mungkin gue nya aja yang lupa atau gak sadar.
"Merek laptop ayah kamu apa?"
gue mencoba nginget-nginget. Tapi gue lupa, bener-bener lupa. ".. Lupa"
Selanjutnya dia nanya2in merek laptop gue dan laptop ortu satu persatu. Dan anehnya, gue lupa semua merk laptop, bahkan punya gue sendiri. Kecuali punya nyokap. "Laptop mama toshiba"
"Oooh iya bener berarti. Ini saya bawa yang untuk toshiba, ayah kamu kan emang pesen yang toshiba juga."
"Oh..."
"Saya boleh liat laptop kamu gak?"
"Oh......?" Gue agak menimbang sebentar. Gue masuk ke kamar berniat ngambil laptop. Yang dia maksud 'liat laptop kamu' kan artinya gue harus bawa laptop itu ke teras, ke dia kan? Dan gue ragu untuk itu. Berkat akal sehat gue yang masih bekerja dominan, akhirnya gue balik ke mas mas nya dengan tangan kosong dan bilang "Merk laptop saya Acer mas"
"Ooh, nggak nggak, maksud saya laptopnya dibawa kesini aja."
"Oooh....?" Akhirnya gue bawa laptop gue dan menaruhnya di meja teras. Dia nyatet angka2 yang tercantum pada stiker yang nempel di bagian bawah laptop gue.
"Skalian deh punya ibu bapak kamu."
Gue masuk kamar, dengan was was ngeliat orang itu, ngeri laptop gue yang gue tinggal di atas meja teras dibawa kabur.
Tapi akhirnya gue bawa keluar juga dua laptop ortu gue. Anehnya, setiap kali gua bawa laptop dari kamar ke teras, gue selalu berusaha menyembunyikan laptop yang gue genggam itu dari penglihatan sodara2 gue. Seolah-olah gue merasa sodara2 gue gak perlu tau urusan gue sama mas mas itu. gue tumpuk kedua laptop itu diatas laptop gue tadi. 3 lembar laptop di atas meja teras.
"Okey, Ini boleh saya bawa dulu?"
Gue pikir yang dia maksud itu kertas yang dia pegang. "Ooh, boleh lah"
Tanpa disangka2, yang dia pegang malah tumpukkan laptop itu. "Eh? Mau dibawa kemana mas?
"eh? ini mau saya anter ini ke mas bayu blablabla.." Ngomongnya sih keliatan pinter dan berpengalaman.
Gue diem. Akal sehat gue cenderung masih menguasai gue. Gue cuman bisa diem natap muka orang itu. Dia ketawa agak tersinggung. "Kalo saya orang jahat, daritadi pas kamu masuk rumah juga ini laptop udah saya bawa kabur."
Gue ketawa agak ngerasa gak enak sama orang itu. "Yaudah.."
"Kamu gausah khawatir, saya cuman mau nganterin ini sebentar kok ke mas bayu. Nanti saya balik lagi. Paling lima belas menitan. Kamu buka aja pager nya, saya gak bakal lama."
Gue diem. dia menyalakan gas motor nya, dan langsung membawanya pergi dengan cepat.
Gue duduk di teras dan bengong ngeliat dia lenyap. Gue bengong....
Badan gue langsung kaku. Baru gue sadar apa yang udah gue lakukan. Baru gue sadar 3 laptop dibawa pergi orang yang gue sendiri belom pernah liat sama sekali, dan bisa2nya gue gak minta contact nya. Barulah jelas apa motif sebenernya dari semua perkataan, tindakan dia. Barulah semuanya masuk akal.
Lima belas menit berlalu, dan dia gak pernah dateng, jelas.
***
Gue juga gatau lah, apa gue nya aja yang kelewat bego dan polos, atau gue ada di bawah pengaruh hipnotis dia, seperti kata orang-orang sini. Tapi yang jelas, semua kata2 dia itu bikin gue yakin kalo dia itu emang orang yang udah akrab sama bokap gue. Bokap gue kan memang orangnya supel dan fleksibel dalam bergaul, jadi ama tukang cuci mobil juga soal akrab mah gampang. Jadi memungkinkan aja kalo si -penjahatkampretyangngakungaku- emang udah deket ama bokap.
Pokoknya kalo misalnya ada orang yang ngajak ngobrol lo, yang mana dari kata2nya seolah-olah menyiratkan dia udah kenal deket sama keluarga lo, jangan langsung percaya gitu aja dan nurutin apa yang dia mau. Mau tampang orang itu kayak mas mas kalem juga jangan lah. Kalau mau cari aman, mending dari awal kalo orang itu emang gak pernah lo liat sama sekali, gausah diladenin. Gausah lo perpanjang obrolan. Kalopun dia yang berusaha memperpanjang, segera tutup diri lo.
Pokoknya keamanan diri lo tuh harus diutamain lah. Mau orang itu tersinggung pun karena lo curigain, tetep lakukan aja apa yang menurut akal sehat lo itu bener. Masalahnya, yang jadi taruhan kan apa yang lo punya. Atau diri lo sendiri.
semoga ini gak terjadi sama lo yee, cukup lo belajar soal ini dari pengalaman gue aja. Semoga aja dengan musibah musibah kayak gini gue bisa lebih deket sama Allah.
oiyee buat yang nyolong laptop gue, gue gakpeduli lo baca ini apa ngga. tapi lo nggak kesian apeh ngeliat anak lo makan duit haram? semoga perbuatan lo dibales Allah yee, Amin.
6 Nov 2011
ABILITY
Kami membentuk lingkaran pada jam istirahat pertama. Zahra
memainkan gitar nya dengan lembut. Gue dan Inge bernyanyi berusaha menyesuaikan
nada suara kami dengan alunan melodi yang dipetik Zahra. Zahra berhenti memetik
gitarnya di tengah lagu.
“gue lupa lanjutannya. Udah lama gak main sih”
Dari situ aja gue udah tau kalau dia anak yang berbakat. Walaupun
nggak terlalu handal dalam bidang pelajaran, tapi dia jago dalam basket, dan
yang baru aja gue saksikan, main gitar. Setelah itu, inge minjem gitar nya
untuk memainkan lagu Romance de Amor yang ingin dipertunjukkan kepada Zahra. Dia
sendiri nggak terlalu menguasai nya, Tapi kan bisa di lihat juga kalau dia
punya kemampuan. Mau se payah apa pun nada yang bunyi dari senar2 itu, dia
masih lebih baik dari gue yang megang dawai nya aja nggak bisa -_-
Di hadapan gue, asti sedang sibuk dengan gambar randomnya
yang terlihat seperti karya seorang Psychedelic. Dia jago ngegambar, tapi
karakter gambar kita beda. Dia lebih ke manga, sedangkan gue lebih mengarah ke
realis.
Dan di sebelah asti, ada temen gue yang biasa dengan panggilan
hina nya sebagai orang Haiti. Hahahahah itu karena kulitnya. Jahat yak?haha. Eh Tapi ya itu istimewa nya dia. Dia orang nya
sabar, dan nggak masukin ke hati apa yang orang bilang soal dia. Namanya UJ (ini bukan nama samaran, tapi
panggilan nya emang UJ, kepanjangan dari Utari Jasmin:p) Orang nya asik. Sejauh
ini gue belum pernah ngeliat kemampuan musik dia, cuman kalau yang gue lihat
dari kemampuan dia shooting 3 point sih dia memang sang Haiti yang suka numbuk
daging hahah. tapi keistimewaan dia yang nyata di mata gue sih kemampuan nya
untuk membaur dengan siapa saja, dan bukan tipe orang yang gampang ngambek
gitu.
Daan, kemudian gue sadar kalau anggota kelas 9C, atau sebut
aja Calixto memiliki kemampuan masing-masing. Kita berwarna. Maksud gue, banyak
dari mereka yang udah tau bakat masing-masing. Yah dunia ini memang berwarna.
Asti dan Ina dengan kemampuan menggambar manga nya. Sampe-sampe
setiap jumat ada anak kecil dari ibtidaiyah yang ngedatengin kelas gue untuk mainta
gambar asti -_- wkwk. Salsa dengan kemampuan editing manipulasi photoshop dan gitar nya. Kemudian si Zahra Winnie the
pooh (abis entah kenapa wajah mereka memiliki kesamaan) D; jago basket dan
gitar, Fajri juga bisa main gitar. Si raka futsal, si Cina (yulika) bisa main
piano, dan temen2 gue lainnya yang pasti punya kemampuan masing2!
Gue sendiri merasa memiliki kemampuan dalam bidang
menggambar. Badminton sedikit, kalau basket nya cuman bisa dribbling hehehe. Mungkin
temen2 di kelas gue menganggap gue pinter, cuman yah, kalau boleh jujur, gue
belajar itu sekedar untuk ngejar nilai. Gue gaada rasa penasaran atas hal yang
pengen gue pelajari. Misalnya PKN, soal otonomi daerah dan lain lain, yhaa-_- gue
gak ada minat untuk jadi DPRD, bupati, dan lain lain-_- untuk PKn, gue
sebenernya cukup mengetahui bagaimana jadi warga Negara yang baik, kan pasti
bakal kepake tuh untuk keseharian gue :p tapi ya darisitu kan gue jadi tau
kalau PKn bukan bidang gue.
Gue akan memperdalam apa yang gue suka. Gue gak bisa memaksa
diri untuk penasaran sama hal yang nggak memberikan gue ketertarikan. Setiap orang
punya ketertarikan masing2.
"Imaginasi adalah
segalanya. Imaginasi adalah penarik masa depan. Imaginasi lebih penting
daripada pengetahuan."
Kalau yang pernah gue tahu dari sebuah acara talkshow di televise,
di Malaysia nggak ada yang nggak naik kelas. soalnya semua punya keahlian
masing2, dan sekolah menghargai itu. ow :/
Kalau yang gue tahu, di Indonesia kemampuan di luar akademi itu
kurang di hargai secara formal nya gitu. yah semua nya DIPAKSA untuk menguasai
pelajaran, baik yang mereka suka atau nggak. Misalnya, si A memenangkan
berbgaia Lomba membaca puisi. Tapi dalam pelajaran matematika nya dia payah,
yah, kena omel juga kan.
Kakak gue aja kaget begitu tau kalau kelas 3 SMP itu udah
mempelajari DAERAH OTONOMI. Katanya, dia baru ketemu materi itu pas kuliah.
BLAAAR! .O.
By the way… kok topik nya malah menjalar ke system pendidikan
di Indonesia ya :o mm, karena pengetahuan gue soal hal itu pun masih terbatas, daripada
gue di cap anak paling sotoy se-MP, maka mari kita tinggalkan saja topik itu
hehe.
Soal kemampuan, gali aja kemampuan yang dirasa dimiliki, tapi
untuk siapa aja yang sekarang ini masih pelajar kayak gue, imbangi waktu antara
hobi dan belajar. :p siapa tahu dari kegiatan belajar itu kita tau bahwa ada pelajaran akademi yang sebenernya menarik perhatian kita. tapi mungkin karena gurunya atau faktor lain, jadi otak kita terespon untuk gak tertarik. tuhkan makin sotoy bahasa gue hehehe
Maaf kalau ada kesalahan atau ketidaktepatan penggunaan kata.
Makasih atas perhatiannya, wassalam
Langganan:
Postingan (Atom)
